
Jan Verellen
Jan Verellen menelaah bagaimana orang belajar — dan bagaimana mereka kemudian diukur. Ia menghabiskan sembilan tahun di Universitas Katolik Leuven, di Belgia, dan lulus dengan dua gelar magister yang sangat berbeda: satu dalam Pendidikan Jasmani & Ilmu Gerak, yang lainnya dalam Teknik Bisnis. Di sepanjang perjalanan itu, satu pertanyaan terus mencengkeram dirinya: mengapa belajar diperlakukan sebagai sesuatu yang harus ditanggung, alih-alih sebagai keterampilan yang sungguh bisa dikuasai seseorang?
Dalam mengejar pertanyaan itu, ia mengajari dirinya sendiri cara belajar jauh lebih efisien — memangkas beban kerjanya sendiri menjadi sebagian kecil dari yang diasumsikan sistem dibutuhkan oleh seorang murid “rata-rata”, sambil tetap lulus dan hidup dengan baik. Ternyata, belajar bukanlah bakat yang dibagikan kepada sebagian orang sejak lahir. Ia adalah perhatian, ingatan, metode, dan keyakinan tenang bahwa kemampuan dapat dilatih.
Gagasan itu tak mau melepaskannya. Jejaknya kembali kepada sesuatu yang lebih kecil dan lebih lama: sebuah ruang kelas, sebuah angka yang ditulis dengan tinta merah, dan pelajaran — yang diserap sejak dini — bahwa seseorang dapat ditimbang, diperingkatkan, dan diberi tahu sebelumnya sejauh apa ia akan melangkah. Mengikuti benang itu ke luar, dari sebuah bangku tunggal menuju sistem-sistem yang menata dunia yang lebih luas, menjadi Takhta-Takhta Yang Tak Terlihat: sebuah sejarah tentang “kuasa ilahi” — mesin yang menampilkan rancangannya sendiri sebagai takdir — dan tentang masyarakat bermentalitas tetap yang dibangun di atas keyakinan bahwa pikiran selesai dibentuk sejak awal.
Takhta-Takhta ditulis untuk orang dewasa. Tetapi separuhnya yang penuh harapan — bahwa selalu ada lebih banyak hal daripada yang dapat ditampung oleh angka mana pun — ditujukan untuk semua orang, dan karena itu ia menumbuhkan dua pendamping: Takjub, kisah-kisah bergambar kecil untuk usia 6–11 tahun, dan Belajar, gagasan-gagasan yang sama diceritakan untuk pelajar yang lebih tua dan orang dewasa. Bersama-sama, ketiganya membentuk satu argumen tunggal, yang diarahkan kepada tiga jenjang usia: pikiran tidaklah tetap, dan seseorang yang pernah merasakan pikirannya sendiri berubah jauh lebih sukar diyakinkan bahwa hierarki-hierarki dunia adalah satu-satunya yang diizinkan oleh alam.
Karya
Sebuah sejarah kuasa ilahi dan masyarakat bermentalitas tetap — serta pencarian akan sebuah visi tentang hari esok yang lebih baik. Baca bukunya →
Gagasan-gagasan buku ini diceritakan sebagai kisah-kisah pendek yang serius — benang dari sebuah bangku tunggal menuju takhta-takhta dunia. Jelajahi Belajar →
Kisah-kisah bergambar kecil tentang segala cara seseorang ternyata lebih daripada yang pernah diduga siapa pun. Jelajahi Takjub →